MELAWAN ASUMSI
M. Musrofi

Anak saya yang baru berusia 4 tahun mengatakan kepada eyangnya,”Rumah punya Eyang dilipat aja, dibawa ke rumahku. Jadi nggak usah pulang…” Anak saya pada suatu saat memakai jam tangan di kaki. Ia suka sekali berdiri di tempat duduk. Ya, banyak lagi kelakukannya yang bertolak-belakang dengan apa yang seharusnya dilakukan. Bagaimana tidak? Rumah yang diasumsikan tidak boleh bergerak itu justru diminta dilipat dan dibawa. Jam yang seharusnya dipasang di tangan dipasang di kaki. Tempat yang seharusnya untuk duduk dipakai berdiri.
Anak-anak memang suka melawan asumsi. Hal inilah salah satu penyebab mengapa anak-anak lebih kreatif dari pada orang dewasa.. Tony Buzan (2002) meringkas hasil penelitian di Amerika mengenai potensi kreatif orang-orang dari berbagai usia sebagai berikut (Tabel 1):
Tabel 1. Kreativitas dari Berbagai Kelompok Usia

 

KELOMPOK USIA

PERSENTASE KREATIVITAS YANG DIGUNAKAN

Murid taman kanak-kanak

95 – 98%

Murid sekolah dasar

50 – 70%

Murid sekolah menengah / mahasiswa

30 – 50%

Orang dewasa

Kurang dari 20%

Karena itu, melawan atau membalik asumsi merupakan salah satu cara menelorkan ide-ide kreatif.  Robert T Kiyosaki ahli menjungkirbalikkan asumsi. Lihat saja Tabel 2. Tabel ini saya ringkas dari buku “Rich Dad, Poor Dad” dan “Cash Flow Quadrant” karangan Kiyosaki.
Lalu bagaimana mengungkap ide-ide dengan cara membalik, melawan, atau menjungkirbalikkan asumsi untuk memperoleh ide-ide baru? Salah satu caranya, ikuti langkah-langkah berikut : Langkah pertama, tulis masalah atau keinginan Anda. Langkah kedua, tulis asumsi yang biasa digunakan untuk memecahkan masalah atau untuk memenuhi keinginan Anda. Langkah ketiga, tulis negasi atau lawanlah atau baliklah asumsi yang biasa digunakan tersebut. Langkah keempat, berpikirlah mengungkap ide-ide baru dari asumsi yang sudah dibalik tersebut, lalu tulis ide-ide baru dari asumsi yang sudah dibalik tersebut.
Sebagai kasus nyata, pada Bulan Oktober 2004, rekening telepon di tempat usaha rekan saya tiba-tiba melonjak sangat tinggi. Untuk memecahkan masalah ini, saya menyarankan rekan saya agar mengikuti langkah-langkah di atas : menulis masalah : bagaimana agar tidak terjadi lonjakan rekening telepon? Menulis asumsi yang biasa digunakan : kurangi frekuensi menelpon atau setiap karyawan tidak boleh menggunakan telepon untuk kepentingan pribadi. Membalik asumsi : setiap karyawan bebas menggunakan telepon baik untuk kepentingan pribadi maupun untuk kepentingan perusahaan. Ide baru yang muncul : dirikan wartel di kantor, telepon kantor yang lama hanya boleh untuk menerima. Ide itu benar-benar dia jalankan. Dia dirikan wartel di kantor, dan minta bantuan PT Telkom agar telepon yang lama tidak bisa digunakan untuk menelpon keluar, tetapi bisa untuk menerima telpon dari luar. Apa yang terjadi? Semua karyawan senang, dia juga senang :  karena justru ada pemasukan tambahan dari wartel tersebut.

Tabel 2. Perbedaan Keadaan, Asumsi, Pola Pikir “Poor Dad” Dengan  “Rich Dad”

KEADAAN, ASUMSI, POLA PIKIR
POOR DAD (AYAH MISKIN)

KEADAAN, ASUMSI, POLA PIKIR
RICH DAD (AYAH KAYA)

Bergelar Doktor (PhD)

Tidak Lulus SMP

Bekerja keras sepanjang hidup

Bekerja keras,  lalu bebas financial

Mati meninggalkan utang

Mati meninggalkan puluhan juta dolar

Cinta uang : akar kejahatan

Kekurangan uang : akar kejahatan

Saya tidak bisa membeli

Bagaimana saya bisa membeli?

Belajar giat à kerja di perusahaan

Bekerja giatà membeli perusahaan

Jangan ambil resiko

Belajar mengelola resiko

Membayat rekening di awal bulan

Membayar rekening di akhir bulan

Sibuk menabung beberapa dolar

Sibuk berinvestasi

Rumah = asset

Rumah = liabilities

Mengajarkan menulis riwayat hidup (untuk melamar kerja)

Mengajarkan menulis rencana bisnis dan keuangan

Uang tidak penting

Uang itu penting

Bekerja uantuk uang

Uang bekerja untuk saya

Kaya berarti :

  1. Uang, uang, dan uang
  2. Orientasi pada pendapatan
  3. Banyak uang yang dihasilkan

Kaya berarti :

  1. Aset, aset, aset
  2. Ciptakan uang dari aset
  3. Pendapatan pasif
  1. Sekolah dan meraih nilai tinggi
  2. Mendapatkan pekerjaan yang baik
  3. Gaji tinggi dan aman
  1. Menciptakan sistem bisnis
  2. Bagaimana orang bekerja untuk Anda
  3. Terus bisa menghasilkan uang
  1. Waktu adalah uang
  2. Bekerja untuk uang
  3. Aman
  4. Suka kerja, tidak suka investasi
  5. Penghasilan rendah, pengeluaran besar
  6. Agar aman
  7. Budak uang
  1. Waktu adalah belajar
  2. Uang bekerja untuk Anda
  3. Untuk sukses perlu gagal
  4. Suka investasi, tidak suka kerja
  5. Pendapatan tinggi, pengeluaran rendah
  6. Agar bebas
  7. Tuan uang

Fokus pada uang.

Fokus pada proses belajar yang terus menerus

Tidak menyadari perubahan

Menyadari perubahan

Fokus berapa uang dihasilkan

Fokus pada investasi

Pemasukan : gaji

Pemasukan dari aset  : royalty, sewa, dll

Upaya : meningkatkan gaji

Upaya : meningkatkan aset

Rumah = asset

Rumah = liabilitas

Pemasukan tidak untuk menambah asset

Pemasukan untuk menambah aset

Fokus pada profesi

Fokus pada bisnis sendiri

Mengurus bisnis milik orang lain

Mengurus bisnis milik sendiri

Mengurus bisnis orang lain terfokus pada gaji

Mengurus bisnis sendiri terfokus pada asset

Berusaha mendapatkan pekerjaan yang aman

Berusaha mendapatkan aset yang disukai

Upaya : meningkatkan gaji

Upaya : meningkatkan dan memperkokoh aset

Cepat tertarik untuk membeli barang

Menunda membeli barang, membangun asset

Visi jangka pendek

Visi jangka panjang

Ingin langsung mendapatkan hasil

Percaya pada penundaan hasil

Menyalahgunakan kekuatan penggandaan

Kekuatan penggandaan

Lompatan besar

Ambil langkah kecil, lalu tekuni