MEMBANGUN MISI, VISI, DAN SASARAN USAHA
M. Musrofi

Imajinasi lebih penting dari pada ilmu pengetahuan.- Albert Einstein

Andai saja kita diminta membangun sebuah rumah. Sesederhana apa pun rumah itu, yang pertama kali dilakukan adalah membayangkan atau berimajinasi tentang sebuah rumah. Imajinasi tersebut dituangkan ke dalam sebuah gambar.  Mungkin gambar itu perlu beberapa kali diperbaiki : ditambah, dikurangi, diubah. Gambar selesai. Biaya material dan tenaga kerja dihitung. Sasaran dan target penyelesaian pembangunan rumah ditentukan. Strategi disusun: bagaimana urutan dan cara penyelesaian setiap bagian rumah. Rencana tindak (action plan) ditulis : pekerjaan apa dikerjakan siapa dimana berapa biaya dan kapan. Cetak biru rumah selesai. Lalu just do it! Jalankan saja!
Kata orang, masa depan itu diciptakan. Dan awal penciptaan adalah imajinasi dan gambaran tentang masa depan atau visi. Imajinasi merupakan modal awal bagi seseorang untuk meraih sukses yang diinginkannya. Imajinasi merupakan pemicu yang mendorong kita untuk bergerak melakukan sesuatu. Anda akan punya kekuatan untuk mencapai imajinasi. Walau Anda tidak langsung dapat meraihnya, tetapi melalui usaha yang bertahap suatu saat imajinasi, mimpi, dan fantasi akan menjadi kenyataan.
Membangun rumah diawali dengan visi. Masak membangun masa depan usaha tanpa visi? Orang yang memulai usaha dari nol, biasanya tidak mau berpikir nasib usahanya dalam jangka panjang. Yang penting jalan dan menguntungkan, begitu kira-kira yang sering ada di benak orang. Ini pun tidak masalah. Namun, jauh lebih baik apabila ada visi. Dengan visi, orang akan tekun, dan terus-menerus termotivasi menuju visi tersebut. Tanpa visi, orang hanya terfokus pada keuntungan jangka pendek. Ketika usaha kelihatan kurang menguntungkan langsung mencari-cari usaha baru. Usaha yang satu gagal, ganti usaha yang lain. Usaha yang lain gagal, ganti usaha yang lain lagi, begitu seterusnya --sampai tua! Ingatlah Thomas Alva Edison, pemegang 1.093 hak paten –suatu rekor tertinggi sebagai pemilik hak paten-- dan pendiri General Electric pernah dikeluarkan dari sekolah. Sebelum Edison bisa membuat lampu yang berpijar ternyata ia telah mencoba sekitar 10.000 (ada yang mengatakan 9.000) lampu yang gagal. Untuk menemukan aki dia telah mencoba sebanyak 50.000 kali. Kolonel Sanders, telah ditolak oleh seribu lebih toko ketika ia menawarkan resep masakan ayam goreng. Akhirnya ia begitu tersohor dengan Kentucky Fried Chicken-nya (KFC). Mesin photo copy Xerox sebelum tersohor seperti sekarang ini, pernah ditolak oleh 20 perusahaan. Walt Disney runtuh 302 kali sebelum menjadi sebuah bisnis begitu gagah dan kuat. Henry Ford mengalami kebangkrutan sebanyak 5 kali. Kegagalan berubi-tubi, tetapi mereka tetap fokus. Pepatah Cina mengatakan, “Kalau Anda tetapkan satu tujuan (fokus) dan Anda terus berupaya meraihnya, tujuan itu akan tercapai.”
Pertanyaannya : bagaimana cara membangun visi usaha? Sebelum membangun visi, sebaiknya diketahui bidang usaha –bolehlah disebut misi-- ,”Apa sebenarnya usaha kita?”          Ada ilustrasi yang diungkap Michael Michalko : Theodore Vail dipecat dari Bell Telephone pada tahun 1890, ketika dia nekat bertanya kepada manajemen, “Apa sebenarnya bisnis kita?” Dia dipanggil lagi 10 tahun kemudian, yakni ketika konsekuensi dari ketiadaan jawaban atas pertanyaan tersebut terbukti –yaitu ketika Bell System, yang beroperasi tanpa definisi yang jelas, telah hanyut dalam krisis parah dan terancam diambil alih oleh pemerintah. Jawaban Theodore Vail, “Bisnis kita adalah jasa, bukan telepon.” Jawaban ini mendorong inovasi radikal dalam kebijakan bisnis Bell Telephone.
            Bagaimana cara mendefinisikan bisnis kita? Untuk ini perlu dijawab dua pertanyaan: Apa jenis bidang usaha Anda? (Manufaktur, perdagangan, atau jasa). Apa jenis produk atau jasa yang dihasilkan? Dijelaskan dengan spesifikasinya.
Setelah misi usaha sudah diketahui, langkah selanjutnya adalah menggambarkan visi atau masa depan usaha yang diinginkan. Langkah-langkah membangun sebuah visi sebagai berikut:
Langkah pertama : biarkan pikiran bebas, tenang, dan jernih. Berimajinasi seolah-olah usaha telah berjalan. Seolah-olah semua aktivitas usaha berjalan baik. Harapan-harapan yang menggairahkan dan menarik dibangkitkan.
            Langkah kedua : pada suatu hari yang paling sempurna, lima tahun  yang akan datang, tiba-tiba pada jam 10.00 pagi, Anda dihubungi stasiun televisi ternama untuk sebuah wawancara ekslusif, karena kesuksesan usaha Anda. Dalam wawancara tersebut, apa yang akan Anda jelaskan tentang sejarah usaha Anda? Tulislah sejarah usaha Anda itu sekarang! Tulislah bagaimana Anda berjuang dari tahun ke tahun untuk membangun kesuksesan usaha tersebut. Tulislah semua itu dengan penuh keyakinan diri.
Langkah ketiga : tulislah dengan singkat maksimum 50 kata sebagai ringkasan dari apa yang telah Anda tulis pada langkah kedua tersebut, mulailah dengan kata “menjadi”. Inilah rumusan visi usaha Anda. Sebaiknya visi itu unik, merupakan ekspresi keyakinan diri, ada keyakinan kuat untuk meraihnya, dan menantang.

Untuk meraih visi perlu tahapan. Setiap tahap diungkap ke dalam tujuan. Tujuan yang baik adalah tujuan yang dapat diperiksa dan diukur (verifiable) apakah tujuan tersebut tercapai atau tidak. Tujuan yang verifiable memenuhi lima kriteria “SMART” (cerdas), yakni : S – Spesific  : rumuskan setepat-tepatnya apa yang ingin Anda capai untuk usaha Anda secara rinci. M – Measurable  : tentukan bagaimana Anda mengukur kemajuan usaha Anda, yang terpenting, Anda bisa mengetahui apakah usaha Anda telah mencapai sasaran atau belum. A – Accountability: buatlah niat bulat secara pribadi bahwa Anda bertanggungjawab bagi tercapainya sasaran usaha Anda.  – Realistic: patoklah sasaran-sasaran yang ambisius namun dapat dicapai. T – Time Line  : ada target waktu pencapaian.